Minggu, 01 November 2009

TVS Hadirkan Iwan Fals di Surabaya


Lama tak muncul di Surabaya, Iwan Fals, pelantun lagu ‘Manusia Setengah Dewa’ itu menuai rindu para penggemarnya. Sabtu (24/10) bertempat di pelataran dealer motor Trust Valoe Service (TVC) Jalan Ahmad Yani Surabaya. Orang Indonesia (OI) serta puluhan pengguna motor TVS yang tergabung dalam TVS Motor Community (TMC) dibuatnya larut dalam lagu-lagu yang dibawakannya.
Iwan tidak sendi
rian, melainkan ditemani Totok Tewel yang mengiringi aksi panggungnya dengan memainkan gitar akustik. Dalam aksinya tersebut mereka mempersembahkan 4 lagu, yaitu Kuda Cokelat, Bunga Kehidupan, Hio, dan Bencana Alam. “Lagu tersebut sengaja kami pilih dan sajikan kepada masyarakat Surabaya sebagai bentuk keprihatinan terhadap bancana-bancana di Indoneisa,” tutur Iwan.
Acara yang dibuka gratis untuk umum tersebut di mulai dari 21 – 29 0ktober 2009 ini merupakan rangkaian acara kunjungan Iwan sebagai Brand ambassador ke beberapa dealer TVS di Jawa Timur, antara lain: Gresik, Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Blitar, Nganjuk, Kediri dan Surabaya.
Menurut Nurlida Fatmikasari selaku Corporate Comminications PT. TVS Motor Company Indonesia, tujuan diadakannya acara tersebut tidak lain untuk lebih mendekatkan merk TVS Motor dengan para customer setia. “Selain bertujuan untuk menajamkan
image, kami juga mengenalkan produk baru TVS Rocksz yang memiliki keunggulan technologi integrated music system dan anti maling (ATL System). Selain itu, TVS juga membagikan sumbangan senilai 7,5 Juta Rupiah kepada panti asuhan. Dana tersebut sebagian diambil Rp. 50 ribu dari pelanggan yang sudah melakukan transaksi pembelian motor TVS,” jelasnya.
Iwan Fals sengaja dipilih oleh TVS sebagai Brand ambassador kerena dianggap memiliki filosofi, visi misi yang sama. Yaitu kepercayaan dengan nilai tambah serta melayani dan mencintai Indonesia”, ungkap wanita yang memiliki sapaan akrab Mieke tersebut.
Acara yng berakhir pukul 18.30 WIB tersebut dihadiri Bambang Setiawan General Manager PT. Perdana Raya Mandiri selaku distributor TVS motor wilayah Jawa Timur, serta Zulfi Satria selaku area Manager PT TVS Motor Company Indonesia wilayah Jawa Timur. (T: Subagus Indra/ F: Dhimas P)

Senin, 19 Oktober 2009

Berjuang dengan Pisang

Mengenakan daster merah, Siti duduk seorang diri diatas sebuah bangku panjang malam itu. Disampingnya berjajaran lebih dari 10 tundun pisang segar yang siap untuk dijual.

Ketika ditanyai usianya kini, ibu dari empat anak ini mengaku lupa, tapi kemudian ia mencoba menerka berapa umurnya saat ini. “Kalau nggak salah umur saya sekarang sekitar 40 tahunan mas,” jawabnya sambil mengerutkan kening. Ia adalah salah satu penjual pisang yang menjajakan dagangannya di area pasar keputran, Surabaya, tepatnya di dekat pintu masuk sebelah selatan. “Sebenarnya ini lapak punya nenek, saya hanya bantu jaga saja,” tutur wanita yang bertempat tinggal didaerah Bagong tersebut.

.Di pasar tradisional yang berusia 136 tahun itu, wanita asal Sampang ini setiap hari menawarkan aneka macam pisang dari pukul empat pagi hingga pukul sembilan malam. “Ada pisang ambon, pisang kepok, pisang susu, pisang raja, pisang lumajang dan masih ada yang lainnya, biasanya satu tundun pisang dijual 70-75 ribu rupiah, tergantung besarnya,” jelasnya.

Pisang-pisang tersebut dipasok dari Lumajang. Dalam satu minggu ada dua kali pengiriman, yaitu Senin dan Jumat. Selain berdagang di daerah tersebut. Ia juga menjajakan pisangnya di pasar keputran lama, disitu juga menjadi gudang penyimpanan pisang-pisang yang akan dijualnya. “Saya dan mbah bergantian jaga,” imbuhnya.

Ditanyai soal penghasilan, ia tak ingin mengatakan jelas. “Ya, pokoknya tak tentu mas, kalau dibilang cukup itu terkadang masih kurang, tapi kalau bilang kurang itu juga sudah cukup buat keperluan sehari-hari,” tukasnya.

Sama dengan pedagang lain, penerangan yang digunakan untuk berdagang pada malam hari didapat dari lampu yang disewakan pengelola pasar. “Ya, cukuplah, harga sewanya juga terjangkau, cuma dua ribu rupiah per malam,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski begitu, hidup di kota besar memang tidaklah mudah. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidup, khususnya kebutuhan ekonomi. Hal tersebut dibenarkan Siti. Istri seorang kuli besi bernama Fadhil di daerah Bagong itu mengaku kesulitan menyambung hidup keluarganya. Penghasilan suaminya tidak bisa dijadikan patokan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Apalagi bapak baru masuk karangmenjangan karena sakit paru-paru. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bekerja kembali,” tuturnya.

Beban hidupnya tak hanya sampai disitu, ia harus berjuang dalam keterbatasan dengan satu anak laki-laki dan tiga anak perempuannya. “Alhamdulillah, anak sulung saya yang laki-laki sudah bekerja. Kemudian adiknya juga sudah lulus SMA, sekarang sibuk jadi guru les privat anak SD dirumah. Sekarang tinggal dua saja tanggungan kami, yang satu sudah kelas enam SD, dan si bungsu masih umur tiga tahun,” tuturnya. “Anak saya yang baru lulus dari SMA 9 kemarin nggak jadi masuk Unair, soalnya uangnya nggak cukup,” imbuhnya.

Wanita kelahiran Surabaya ini juga lancar berbicara menggunakan bahasa jawa, selain fasih berbahsa daerahnya madura. Ia berharap nantinya ia dapat membuka lapak dan berjualan sendiri tanpa bergantung lagi pada neneknya. “Kulo pengen saged sadean piyambak mas,” akunya.(T: Subagus Indra)

Selasa, 22 September 2009

Mudik Memuncak, Optimalkan Jalur Alternatif

Jum'at (18/09) bertepatan H-2 arus mudik 2009, jalur Surabaya - Kediri mengalami kemacetan di Kertosono. Untuk mengatasi hal tersebut, bagi pemudik dari arah Surabaya, polisi membukakan jalur alternatif di Mojoagung, Jombang hingfga tembus Pare, Kediri.

Pemudik bermotor tak mau ketinggalan, bersama anak, istri dan barang bawaan yang tak jarang sampai over loaded, menyusuri jalanan ke kampung halaman. Untuk menghindari kemacetan yang lebih panjang, mereka yang dari arah Surabaya diinstruksikan untuk menggunakan jalur alternatif tersebut.

Memang sebelumnya telah diprediksi puncak arus mudik terjadi pada H-2. Dari data yang diperoleh dari detik.com, pada H-2 mudik, sedikitnya 2000 kendaraan roda empat dan 4000 kendaraan roda dua melintas tiap jamnya dari Surabaya menuju Kediri dan Madiun. (T: Subagus Indra)