Selasa, 10 November 2009

Smamda Gelar Diklat Gabungan Ekstra Kurikuler

>

SMA 2 Muhammadiyah Surabaya baru saja menyelenggarakan diklat gabungan ekstra kurikuler (Dikstar) 2009. Acara yang diselenggarakan 6 – 8 November tersebut digelar di wana wisata Coban Rondo. Didukung 13 ekstra kurikuler (ekskul), acara yang menggunakan konsep outdoor activity tersebut diikuti seluruh siswa dari kelas X sebagai peserta.

Ekskul yang ikut meramaikan acara tersebut diantaranya, sepak bola, basket, soft ball, bulu tangkis, fotografi, cinematografi, jurnalistik, presenter, teater, paduan suara, nasyid, paskibraka dan pecinta alam.

Peserta yang kebanyakan dari kelas X bebas memilih satu ekskul yang mereka minati. Masalah tekhnis menejemen diklat diserahkan kepada masing-masing ekskul yang terlibat. Panitia berasal dari kelas XI dan XII disertai pendamping dan guru pembimbing.

Acara yang menggunakan fasilitas enam tenda barak ini selain bertujuan untuk menarik murid dalam kegiatan ekstra sekolah, juga mengajak siswa-siswinya ikut merasakan sama seperti para korban bencana alam yang menghabiskan harinya di tenda pengungsian. “Dengan begini kita jadi tahu bagaimana rasanya hidup di tenda. Khususnya anak-anak yang biasanya bermalas-malasan dengan berbagai fasilitas yang ada di rumah, jadi tidak lagi disini,” Jelas Supriyadi selaku ketua pelaksana Dikstar 2009

Supriyadi menambahkan acara ini berguna untuk siswa-siswi smamda sebagai penyalur hobi mereka. “Yang terpenting siswa-siswi bisa mengatur porsi waktu untuk belajar dan berkegiatan di ekskul agar jadi seimbang,” Ujarnya.

“Acara ini sangat seru, kita dapat banyak hal disini,” tutur Rina, salah satu peserta diklat ekskul pecinta alam.

“Semoga tahun depan kita dapat melaksanakan acara seperti ini kembali, tentunya dengan beberapa catatan sebagai acuan untuk menjadi lebih baik,” ujar Supriyadi saat upacara penutupan. (T: Subagus Indra/F: dok. smamda)

Minggu, 01 November 2009

TVS Hadirkan Iwan Fals di Surabaya


Lama tak muncul di Surabaya, Iwan Fals, pelantun lagu ‘Manusia Setengah Dewa’ itu menuai rindu para penggemarnya. Sabtu (24/10) bertempat di pelataran dealer motor Trust Valoe Service (TVC) Jalan Ahmad Yani Surabaya. Orang Indonesia (OI) serta puluhan pengguna motor TVS yang tergabung dalam TVS Motor Community (TMC) dibuatnya larut dalam lagu-lagu yang dibawakannya.
Iwan tidak sendi
rian, melainkan ditemani Totok Tewel yang mengiringi aksi panggungnya dengan memainkan gitar akustik. Dalam aksinya tersebut mereka mempersembahkan 4 lagu, yaitu Kuda Cokelat, Bunga Kehidupan, Hio, dan Bencana Alam. “Lagu tersebut sengaja kami pilih dan sajikan kepada masyarakat Surabaya sebagai bentuk keprihatinan terhadap bancana-bancana di Indoneisa,” tutur Iwan.
Acara yang dibuka gratis untuk umum tersebut di mulai dari 21 – 29 0ktober 2009 ini merupakan rangkaian acara kunjungan Iwan sebagai Brand ambassador ke beberapa dealer TVS di Jawa Timur, antara lain: Gresik, Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Blitar, Nganjuk, Kediri dan Surabaya.
Menurut Nurlida Fatmikasari selaku Corporate Comminications PT. TVS Motor Company Indonesia, tujuan diadakannya acara tersebut tidak lain untuk lebih mendekatkan merk TVS Motor dengan para customer setia. “Selain bertujuan untuk menajamkan
image, kami juga mengenalkan produk baru TVS Rocksz yang memiliki keunggulan technologi integrated music system dan anti maling (ATL System). Selain itu, TVS juga membagikan sumbangan senilai 7,5 Juta Rupiah kepada panti asuhan. Dana tersebut sebagian diambil Rp. 50 ribu dari pelanggan yang sudah melakukan transaksi pembelian motor TVS,” jelasnya.
Iwan Fals sengaja dipilih oleh TVS sebagai Brand ambassador kerena dianggap memiliki filosofi, visi misi yang sama. Yaitu kepercayaan dengan nilai tambah serta melayani dan mencintai Indonesia”, ungkap wanita yang memiliki sapaan akrab Mieke tersebut.
Acara yng berakhir pukul 18.30 WIB tersebut dihadiri Bambang Setiawan General Manager PT. Perdana Raya Mandiri selaku distributor TVS motor wilayah Jawa Timur, serta Zulfi Satria selaku area Manager PT TVS Motor Company Indonesia wilayah Jawa Timur. (T: Subagus Indra/ F: Dhimas P)

Senin, 19 Oktober 2009

Berjuang dengan Pisang

Mengenakan daster merah, Siti duduk seorang diri diatas sebuah bangku panjang malam itu. Disampingnya berjajaran lebih dari 10 tundun pisang segar yang siap untuk dijual.

Ketika ditanyai usianya kini, ibu dari empat anak ini mengaku lupa, tapi kemudian ia mencoba menerka berapa umurnya saat ini. “Kalau nggak salah umur saya sekarang sekitar 40 tahunan mas,” jawabnya sambil mengerutkan kening. Ia adalah salah satu penjual pisang yang menjajakan dagangannya di area pasar keputran, Surabaya, tepatnya di dekat pintu masuk sebelah selatan. “Sebenarnya ini lapak punya nenek, saya hanya bantu jaga saja,” tutur wanita yang bertempat tinggal didaerah Bagong tersebut.

.Di pasar tradisional yang berusia 136 tahun itu, wanita asal Sampang ini setiap hari menawarkan aneka macam pisang dari pukul empat pagi hingga pukul sembilan malam. “Ada pisang ambon, pisang kepok, pisang susu, pisang raja, pisang lumajang dan masih ada yang lainnya, biasanya satu tundun pisang dijual 70-75 ribu rupiah, tergantung besarnya,” jelasnya.

Pisang-pisang tersebut dipasok dari Lumajang. Dalam satu minggu ada dua kali pengiriman, yaitu Senin dan Jumat. Selain berdagang di daerah tersebut. Ia juga menjajakan pisangnya di pasar keputran lama, disitu juga menjadi gudang penyimpanan pisang-pisang yang akan dijualnya. “Saya dan mbah bergantian jaga,” imbuhnya.

Ditanyai soal penghasilan, ia tak ingin mengatakan jelas. “Ya, pokoknya tak tentu mas, kalau dibilang cukup itu terkadang masih kurang, tapi kalau bilang kurang itu juga sudah cukup buat keperluan sehari-hari,” tukasnya.

Sama dengan pedagang lain, penerangan yang digunakan untuk berdagang pada malam hari didapat dari lampu yang disewakan pengelola pasar. “Ya, cukuplah, harga sewanya juga terjangkau, cuma dua ribu rupiah per malam,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski begitu, hidup di kota besar memang tidaklah mudah. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidup, khususnya kebutuhan ekonomi. Hal tersebut dibenarkan Siti. Istri seorang kuli besi bernama Fadhil di daerah Bagong itu mengaku kesulitan menyambung hidup keluarganya. Penghasilan suaminya tidak bisa dijadikan patokan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Apalagi bapak baru masuk karangmenjangan karena sakit paru-paru. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa bekerja kembali,” tuturnya.

Beban hidupnya tak hanya sampai disitu, ia harus berjuang dalam keterbatasan dengan satu anak laki-laki dan tiga anak perempuannya. “Alhamdulillah, anak sulung saya yang laki-laki sudah bekerja. Kemudian adiknya juga sudah lulus SMA, sekarang sibuk jadi guru les privat anak SD dirumah. Sekarang tinggal dua saja tanggungan kami, yang satu sudah kelas enam SD, dan si bungsu masih umur tiga tahun,” tuturnya. “Anak saya yang baru lulus dari SMA 9 kemarin nggak jadi masuk Unair, soalnya uangnya nggak cukup,” imbuhnya.

Wanita kelahiran Surabaya ini juga lancar berbicara menggunakan bahasa jawa, selain fasih berbahsa daerahnya madura. Ia berharap nantinya ia dapat membuka lapak dan berjualan sendiri tanpa bergantung lagi pada neneknya. Kulo pengen saged sadean piyambak mas,” akunya.(T: Subagus Indra)