Sabtu, 14 November 2009

Simfoni Untuk Bangsa di Tugu Pahlawan

Menutup rangkaian acara Surabaya juang, dalam rangka memeringati hari pahlawan, Selasa (10/11) Surabaya menggelar konser musik dengan tajuk simfoni untuk bangsa. Dengan menggandeng salah satu televisi swasta dan perusahan rokok Indonesia, event yang diselenggarakan di tugu pahlawan tersebut diisi tiga grup band ternama Indonesia, Ungu, ST 12 dan The Changcuters.


Pagelaran yang dimulai pukul 19.30-22.00 WIB itu dibuka oleh penampilan Ungu yang berkolabirasi dengan Charly ST 12 lewat lagu ‘Hampa Hatiku’. Disusul ST 12 dan The Changcuters. Masing-masing membawakan lagu-lagu andalan mereka.

Untuk menghormati jasa pahlawan, masing-masing grup band juga membawakan satu lagu nasional yang sudah mereka aransemen ulang. Ungu membawakan lagu ‘Gugur Bunga’, ST 12 dengan ‘Berkibarlah Benderaku’ diiringi kibaran bendera merah putih oleh Paskibraka, dan The Changcuters menyulap lagu ‘Maju tak Gentar’ sesuai gaya musik khas mereka. “Seharusnya kita bangga dengan pahlawan yang sudah berkorban buat bangsa ini, berkat mereka sekarang kita bisa hidup enak, bisa sekolah enak, dan bisa blackberry-an,” Ujar Tria, vokalis The Changcuters.

Ia menambahkan, jangan sampai makna yang terkandung dalam peringatan hari pahlawan hilang atau bahkan tidak diketahui, karena hari pahlawan mempunyai esensi besar dalam perjuangan memeroleh kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Berbeda dengan tahun lalu, Acara terpaksa dihentikan akibat dirundung hujan ditengah konser, kali ini berjalan lancar. Namun, jatuhnya korban akibat
desakan antar penonton tak dapat dihindarkan. Akhir acara, ditutup dengan pertunjukan kembang api. (T/F: Subagus Indra)


Konser Sukses, Jukir Ndrenges


Kemeriahan konser simfoni untuk bangsa, Minggu (10/11) di tugu pahlawan tak hanya memuaskan penonton. Namun, pihak lain pun ikut merasa hal serupa, khususnya Jukir (juru parkir). Mereka meraup rezeki berlimpah berkat acara tersebut dengan menaikkan tarif parkir lima kali lipat dari hari biasa.

Suasana meriah itu nampak dari antusiasme penonton yang tinggi sampai totalitas penampilan artis pengisi acara. Selain itu, munculnya tempat parkir dadakan di sepanjang akses menuju tempat pagelaran ikut meramaikan acara tahunan itu.

Lutfhi, salah satu Jukir yang biasa mendirikan area parkir di jalan Kramat Gantung. Jika pada hari biasa ia hanya memasang tarif 1000 rupiah per motor, malam itu ia mematok tarif 5000 rupiah per motor.

Tak hanya Lutfhi, semua tempat parkir yang buka malam itu juga memasang tarif sama. “Ya, Alhamdulillah mas, kira-kira kurang lebih kita dapat 500 ribu rupiah,” aku pemuda yang bertempat tinggal di jalan Bundi tersebut.

Hal ini mendapat respon positif dari masyarakat yang menggunakan jasa parkir itu. “Nggak apa-apa, yang penting aman,” Ujar Reza, salah satu orang yang parkir di tempat itu. Untuk keamanan dan kelancaran, lutfhi dibantu enam orang temannya menjaga area parkir sepanjang lebih kurang 50 meter. (T/F: Subagus Indra)

Selasa, 10 November 2009

Smamda Gelar Diklat Gabungan Ekstra Kurikuler

>

SMA 2 Muhammadiyah Surabaya baru saja menyelenggarakan diklat gabungan ekstra kurikuler (Dikstar) 2009. Acara yang diselenggarakan 6 – 8 November tersebut digelar di wana wisata Coban Rondo. Didukung 13 ekstra kurikuler (ekskul), acara yang menggunakan konsep outdoor activity tersebut diikuti seluruh siswa dari kelas X sebagai peserta.

Ekskul yang ikut meramaikan acara tersebut diantaranya, sepak bola, basket, soft ball, bulu tangkis, fotografi, cinematografi, jurnalistik, presenter, teater, paduan suara, nasyid, paskibraka dan pecinta alam.

Peserta yang kebanyakan dari kelas X bebas memilih satu ekskul yang mereka minati. Masalah tekhnis menejemen diklat diserahkan kepada masing-masing ekskul yang terlibat. Panitia berasal dari kelas XI dan XII disertai pendamping dan guru pembimbing.

Acara yang menggunakan fasilitas enam tenda barak ini selain bertujuan untuk menarik murid dalam kegiatan ekstra sekolah, juga mengajak siswa-siswinya ikut merasakan sama seperti para korban bencana alam yang menghabiskan harinya di tenda pengungsian. “Dengan begini kita jadi tahu bagaimana rasanya hidup di tenda. Khususnya anak-anak yang biasanya bermalas-malasan dengan berbagai fasilitas yang ada di rumah, jadi tidak lagi disini,” Jelas Supriyadi selaku ketua pelaksana Dikstar 2009

Supriyadi menambahkan acara ini berguna untuk siswa-siswi smamda sebagai penyalur hobi mereka. “Yang terpenting siswa-siswi bisa mengatur porsi waktu untuk belajar dan berkegiatan di ekskul agar jadi seimbang,” Ujarnya.

“Acara ini sangat seru, kita dapat banyak hal disini,” tutur Rina, salah satu peserta diklat ekskul pecinta alam.

“Semoga tahun depan kita dapat melaksanakan acara seperti ini kembali, tentunya dengan beberapa catatan sebagai acuan untuk menjadi lebih baik,” ujar Supriyadi saat upacara penutupan. (T: Subagus Indra/F: dok. smamda)